Jabaran Sekilas Bahasa Melayu Kupang (Bagian 1)

Bahasa Melayu Kupang adalah bagian dari bahasa kreol yang berbasis bahasa Melayu. Bahasa Melayu sudah jadi bahasa pergaulan dikawasan ujung barat Pulau Timor ini sejak berabad-abad lamanya, dikarenakan Kupang sudah menjadi pintu gerbang perdagangan sekaligus politik, dan berbagai suku bangsa sudah banyak bermukim dikawasan ini sejak lama. Ketika Kupang diresmikan jadi ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 1958, otomatis warga dari berbagai wilayah di NTTpun berdatangan ke kota Kupang dan membentuk mozaik yang khas. Kupang kini menjadi kawasan multisuku dimana berbagai kelompok seperti Dawan, Helong, Ende, Rote, Ndao, Sabu, Tetun, Alor, Solor, Manggarai, Sumba dan lain-lain termasuk Jawa, Bali, Bugis, Cina, Arab, Belanda dan Portugis membentuk karakter kota. Kelompok ini mempertahankan identitas kesukuannya masing-masing, bahkan masih bertutur dengan bahasa bawaan mereka.

Namun seiring dengan generasi selanjutnya, mereka inilah yang menjadikan bahasa Melayu Kupang sebagai bahasa ibu mereka dan jarang menguasai bahasa leluhurnya sendiri.

Menurut Jacob-Grimes (2006), bahasa Melayu dibagi menjadi 3 bagian, yakni :

  1. Vernacular Malay (Melayu Lokal) yang dituturkan di tanah asal Melayu, yakni Sumatera, Semenanjung dan Singapura.
  2. Official language Malay (Melayu Tinggi) dipakai oleh kalangan kerajaan baik di Sumatera, sebagian Kalimantan dan Semenanjung.
  3. Lingua franca Malay (Melayu Pasar), jenis bahasa Melayu rendah yang dipakai sebagai bahasa komunikasi antar kelompok dan berbasis pada perdagangan sejak jaman dahulu.

Status Bahasa Melayu Kupang

Seperti halnya bahasa-bahasa daerah di Indonesia, bahasa Melayu Kupang juga bersinggungan dengan bahasa resmi, yakni bahasa Indonesia yang berakar dari Melayu Tinggi. Statusnyapun masih dipandang inferior karena hanya dipakai dalam percakapan sehari-hari dan bukan dalam kesempatan resmi. Dalam urusan resmi, bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia.

Sedangkan bahasa Melayu Kupang digunakan sebagai bahasa percakapan antar kelompok yang berbeda latar belakang dan terdengar dalam kehidupan sehari-hari di kawasan Kupang dan sekitarnya.

Namun demikian, para penutur bahasa Melayu Kupang terkadang menghadapi kendala saat harus berbahasa Indonesia, khususnya sistem tatabahasa dan pengucapan.

Perbedaan bahasa Indonesia dan Melayu Kupang Sekilas

Bahasa Indonesia dan Melayu Kupang mempunyai beberapa perbedaan yang signifikan dalam berbagai aspek. Pengaruh bahasa sekitar seperti Helong, Rote, Ndao, Tetun Terik bahkan Tetun Prasa tak dapat dihindari dalam kasus Melayu Kupang ini. Misalnya saja dari segi tatabahasa, dilihat dari contohnya adalah sebagai berikut  (Sebagian sumber : Jacob-Grimes, 2006)

Kata ganti orang (pronouns)

Saya – beta

Kamu – lu

Dia – dia

Kita – katong, kotong, ketong

Kami – batong, botong, betong

Kalian – basong, bosong

Mereka – dong (kependekan dia orang)

Kepemilikan (possession)

Melayu Kupang dalam hal ini sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. Di bahasa ini tidak dikenal istilah –ku, -mu, -nya maupun…..saya,….kamu,…..dia.

Contohnya :

Rumah saya di Melayu Kupang menjadi beta pung rumah

Ibu kamu menjadi lu pung mama

Buku mereka menjadi dong pung buku

Saudara Ama Feok menjadi Ama Feok pung kaka-adi

Hal demikian serupa dengan bahasa Melayu Rendah yang tatanannya kurang lebih sama.

Sekilas Morfologi

Perbedaan antara bahasa Indonesia dan Melayu Kupang dalam sistem morfologi antara lain.

Morfologi kata kerja

Ber menjadi ba

Contoh :  bercerita menjadi bacarita

Meng, me…, me…kan menjadi kasi

Contoh : memukul jadi kasipukul

Di…. Menjadi dapa atau kana

Contoh : dipukul jadi dapa pukul, disetrum jadi kana stroom

Modal

Perbedaannya antara lain

Sedang + kata kerja – ada + kata kerja

Contoh : sedang bermain ada bamaen

Masih + kata kerja – ada + kata kerja + lai

Contoh : masih makan – ada makan lai

Kata kerja + terus – maen + kata kerja + tarus

Contoh : makan terus – maen makan tarus

Harus/perlu/mesti musi

Contoh : Kamu harus belajar – Lu musi balaja

Ingin/hendak/mau – mo

Contoh : Saya mau pergi ke Kupang – Beta mo pi Kupang

Pak Robert hendak datang – Pak Robert mo datang

Sudah/telah – su

Contoh : Saya sudah makan – beta su makan

Bentuk Negatif

Dalam bahasa Melayu Kupang, dikenal bentuk negatif sebagai berikut :

Tidak, tak – sonde, son

Contoh : saya tidak tahu – beta sonde tau/ be son tau

Belum – balom

Contoh : Mereka berdua belum kawin – dong dua balom kawin

Tidak lagi – sonde lai

Contoh : Saya tidak pernah kesana lagi – beta sonde pi sana lai

Bukan – bukan

Contoh : Bukan aku yang melemparmu – bukan beta lempar sang lu

Jangan – jang

Contoh : Jangan beri dia kue itu karena sudah basi – Jang kasi dia itu kue te su basi

Tidak boleh – sonde bole

Contoh : Kamu tidak boleh pergi dulu – Lu sonde bole pi dolo

Hubungan Antar Klausa dan Wacana

Kata hubung

Dalam bahasa Melayu Kupang dikenal kata hubung yang mempunyai lebih dari satu makna, seperti

Ju : kependekan dari juga, namun artinya lebih dari dua, karena kata hubung ini dapat diartikan sebagai dan, juga, lalu, kemudian, sehingga, jadi.

Ko : berarti ke, supaya, sehingga, agar, lalu, dan kemudian. Ko juga bisa berarti atau dan kan? (question tag).

Tagal : artinya karena (dengan alasan yang sangat kuat)

Te : artinya karena juga (dengan alasan), dan yang

Ko….na : karena (dengan penekanan pada sesuatu)

Ma : tetapi, berakar dari bahasa Belanda (maar) atau Portugis (ma)

Deng : kependekan dari dengan, tapi artinya dan

Andia ko : Itu sebabnya (that’s why)

Penanda Wacana (Discourse markers)

Ais tu/abis itu/tarus/ju : setelah itu/kemudian/lalu

Contoh : Ais Tuhan Allah omong lai, bilang….(Setelah itu Tuhan berkata)

Kapan tempo? : kapan?

Contoh : Kapan tempo lu turun datang? (Kapan kamu datang?)

Memang sa!/ Itu su!/ Andia su! : pantas!/tentu!

Contoh : Memang sa! Dia su tau! (Pantas! Dia sudah tahu!)

Tempo hari/ Itu waktu : waktu itu

Contoh : Itu waktu beta lia Ina Feok lempar sapatu sang Bai Ndu (Waktu itu saya melihat Ina Feok melempar sepatu ke arah Bai Ndu).

Bersambung

Sumber:

  1. Grimes, Barbara D dan Jacob, June. 2006. Developing a role for Kupang Malay: the contemporary politics on an eastern Indonesian Creole. http://www.sil.org/asia/philippines/ical/papers.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: