Kamus Melayu Kupang – Indonesia – Melayu

A

A’a : saudara yang lebih tua

Ada : ada (selain keberadaan juga menunjuk kondisi sekarang)

Adi : adik

Adi bungsu : adik bungsu

Adi nona : adik perempuan

Adu : aduh

Aer : air  – air/ayer

Agama – agama – ugama

Ais : selesai, kemudian

Akurang : kenapa – apa pasal

Ama : (panggilan) bapak, tuan – encik

Ambur : hambur

Ame : ambil, beberapa

Ampa : empat

Amper : hampir

Ana : anak

Ana bua : anak buah

Ana kici : anak kecil

Ana mera : bayi

Ana nona : anak gadis

Ancor : hancur

Andia : dia, mereka

Andia ko : itu sebabnya

Andia su! : Tentu saja!

Anggok : angguk

Anggor : anggur

Angka : angkat

Angka lagu : putar lagu

Anteru : seluruh

Apa : apa

Apalai : apalagi

Asin : asin-masin

Asut : hasut

Ati-ati : hati-hati

Ato : atau

Ator : atur

Ator bae-bae : diatur saja

Aue : aih, alahai

Awii : ungkapan kagum, heran – ungkapan hairan

B

Ba’aer : berair

Ba’iu : jual mahal, bertingkah

Babakar : membakar, main bakar

Babalas : berbalas

Babaris : berbaris

Baboo : berbau

Babunyi : berbunyi

Bacampor : bercampur

Badeka : berdekatan

Bae : baik

Bafoe : sibuk

Baganggu : mengganggu, menggoda

Bagaya : bergaya

Bahodeng : bergaya, pamer

Ba’i : panggilan untuk lelaki tua

Baitua : sebutan untuk pacar/suami

Bajalan : berjalan

Bajengkel : jengkel

Bajual : berjualan

Bakajar : berkejaran

Bakal : bekal – bekalan

Bakalai : berkelahi

Bakanal : berkenalan

Bakanjar : berdebat, berdiskusi

Bakatumu : bertemu

Bakawan : berkawan

Bakosi : menendang

Baku liat : berpapasan

Bakupuku : berkelahi

Bala : belah, bagi

Balogat : cara bicara, logat – pelat

Balom : belum

Balurus : bersikap lurus

Balus : blus, baju perempuan

Bam-banya : banyak, ramai

Bamangada : berhadapan

Bamaki : memaki

Bamara : bertengkar – bergaduh

Bamasak : memasak

Banasiat : menasihati

Bangke : bangkai

Banjer : banjir

Banya : banyak

Banyanyi : menyanyi

Baolok : mengolok-olok, mengejek

Baomong : ngomong – cakap

Bapa : bapak

Bapa-ana : anak-anak

Bapa besar : paman (kakak bapak/ibu)

Bapa kecil : om (adik bapak/ibu)

Bapanas : kepanasan

Baptua : kakek, orang tua – datuk

Bapukul : memukul

Bar : baru

Barabut : berebut

Barapa : berapa

Baras : beras

Barat : berat, barat (arah/hala)

Baribu : beribu

Baribut : ribut, bergaduh

Barisi : bersih

Barita : berita

Baruba : berubah

Basambong : bersambung

Basambong mulu : membahas, diskusi

Basayang : saling menyayangi

Basédi : bersedih

Basengko lengko : serong, melenceng

Baso’al : mempersoalkan, mempertanyakan

Basong : kalian

Batabrak : menabrak

Batangkar : bertengkar – bergaduh

Batanya : bertanya

Batarea: berteriak

Batul : betul

Bauji : menguji

Bé : saya (potongan dari beta)

Béa : bea, pajak – cukai

Bé’a : besar, lebih tua, lama

Bégéna? : bagaimana – bagaimana, macam mana

Békin : bikin

Békin hal : cari masalah

Bémo : bemo, angkot – bas mini

Béngko : bengkok

Bépung : saya punya

Bésar : besar

Beta : saya

Bétong : kita

Binatang : binatang

Binatang piara : binatang peliharaan

Binci : benci

Bingung bodo : bingung betul

Bo’i : sayang (panggilan)

Bobou : berbau

Bodo : bodoh

Bodok : bodoh, kurang tahu, belum tahu

Bokor : baskom

Bola kaki : sepakbola – bola sepak

Bolom : belum

Bosong : kalian

Bibit roti : ragi – yis, ibu roti

Bini : istri

Bu : bung – bang

Bua : buah

Budak : budak

Bui : penjara

Bunu : bunuh

C

Cabu : cabut

Cakar pinggang : bertolak pinggang

Calana : celana – seluar

Calop : celup

Capat : cepat

Cape : capek, penat – penat

Cari hal : cari perkara

Caya : cahaya

Cece : cicit

Cepur : basuh

Cere : cerai

Cerek : ketel, ceret

Cet : cat

Ciom : cium

Colo : celup

Cucu : cucu

Cucu-cece : cucu cicit

Cuka garam! : makian halus

Cuka minyak! : makian halus

Cukimai : makian kasar

Cules : tidak mau membantu

Cum : cuma

RUMAH KAMUS’S COPYRIGHT

Leave a comment »

Jabaran Sekilas Bahasa Melayu Kupang (Bagian 1)

Bahasa Melayu Kupang adalah bagian dari bahasa kreol yang berbasis bahasa Melayu. Bahasa Melayu sudah jadi bahasa pergaulan dikawasan ujung barat Pulau Timor ini sejak berabad-abad lamanya, dikarenakan Kupang sudah menjadi pintu gerbang perdagangan sekaligus politik, dan berbagai suku bangsa sudah banyak bermukim dikawasan ini sejak lama. Ketika Kupang diresmikan jadi ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 1958, otomatis warga dari berbagai wilayah di NTTpun berdatangan ke kota Kupang dan membentuk mozaik yang khas. Kupang kini menjadi kawasan multisuku dimana berbagai kelompok seperti Dawan, Helong, Ende, Rote, Ndao, Sabu, Tetun, Alor, Solor, Manggarai, Sumba dan lain-lain termasuk Jawa, Bali, Bugis, Cina, Arab, Belanda dan Portugis membentuk karakter kota. Kelompok ini mempertahankan identitas kesukuannya masing-masing, bahkan masih bertutur dengan bahasa bawaan mereka.

Namun seiring dengan generasi selanjutnya, mereka inilah yang menjadikan bahasa Melayu Kupang sebagai bahasa ibu mereka dan jarang menguasai bahasa leluhurnya sendiri.

Menurut Jacob-Grimes (2006), bahasa Melayu dibagi menjadi 3 bagian, yakni :

  1. Vernacular Malay (Melayu Lokal) yang dituturkan di tanah asal Melayu, yakni Sumatera, Semenanjung dan Singapura.
  2. Official language Malay (Melayu Tinggi) dipakai oleh kalangan kerajaan baik di Sumatera, sebagian Kalimantan dan Semenanjung.
  3. Lingua franca Malay (Melayu Pasar), jenis bahasa Melayu rendah yang dipakai sebagai bahasa komunikasi antar kelompok dan berbasis pada perdagangan sejak jaman dahulu.

Status Bahasa Melayu Kupang

Seperti halnya bahasa-bahasa daerah di Indonesia, bahasa Melayu Kupang juga bersinggungan dengan bahasa resmi, yakni bahasa Indonesia yang berakar dari Melayu Tinggi. Statusnyapun masih dipandang inferior karena hanya dipakai dalam percakapan sehari-hari dan bukan dalam kesempatan resmi. Dalam urusan resmi, bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia.

Sedangkan bahasa Melayu Kupang digunakan sebagai bahasa percakapan antar kelompok yang berbeda latar belakang dan terdengar dalam kehidupan sehari-hari di kawasan Kupang dan sekitarnya.

Namun demikian, para penutur bahasa Melayu Kupang terkadang menghadapi kendala saat harus berbahasa Indonesia, khususnya sistem tatabahasa dan pengucapan.

Perbedaan bahasa Indonesia dan Melayu Kupang Sekilas

Bahasa Indonesia dan Melayu Kupang mempunyai beberapa perbedaan yang signifikan dalam berbagai aspek. Pengaruh bahasa sekitar seperti Helong, Rote, Ndao, Tetun Terik bahkan Tetun Prasa tak dapat dihindari dalam kasus Melayu Kupang ini. Misalnya saja dari segi tatabahasa, dilihat dari contohnya adalah sebagai berikut  (Sebagian sumber : Jacob-Grimes, 2006)

Kata ganti orang (pronouns)

Saya – beta

Kamu – lu

Dia – dia

Kita – katong, kotong, ketong

Kami – batong, botong, betong

Kalian – basong, bosong

Mereka – dong (kependekan dia orang)

Kepemilikan (possession)

Melayu Kupang dalam hal ini sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. Di bahasa ini tidak dikenal istilah –ku, -mu, -nya maupun…..saya,….kamu,…..dia.

Contohnya :

Rumah saya di Melayu Kupang menjadi beta pung rumah

Ibu kamu menjadi lu pung mama

Buku mereka menjadi dong pung buku

Saudara Ama Feok menjadi Ama Feok pung kaka-adi

Hal demikian serupa dengan bahasa Melayu Rendah yang tatanannya kurang lebih sama.

Sekilas Morfologi

Perbedaan antara bahasa Indonesia dan Melayu Kupang dalam sistem morfologi antara lain.

Morfologi kata kerja

Ber menjadi ba

Contoh :  bercerita menjadi bacarita

Meng, me…, me…kan menjadi kasi

Contoh : memukul jadi kasipukul

Di…. Menjadi dapa atau kana

Contoh : dipukul jadi dapa pukul, disetrum jadi kana stroom

Modal

Perbedaannya antara lain

Sedang + kata kerja – ada + kata kerja

Contoh : sedang bermain ada bamaen

Masih + kata kerja – ada + kata kerja + lai

Contoh : masih makan – ada makan lai

Kata kerja + terus – maen + kata kerja + tarus

Contoh : makan terus – maen makan tarus

Harus/perlu/mesti musi

Contoh : Kamu harus belajar – Lu musi balaja

Ingin/hendak/mau – mo

Contoh : Saya mau pergi ke Kupang – Beta mo pi Kupang

Pak Robert hendak datang – Pak Robert mo datang

Sudah/telah – su

Contoh : Saya sudah makan – beta su makan

Bentuk Negatif

Dalam bahasa Melayu Kupang, dikenal bentuk negatif sebagai berikut :

Tidak, tak – sonde, son

Contoh : saya tidak tahu – beta sonde tau/ be son tau

Belum – balom

Contoh : Mereka berdua belum kawin – dong dua balom kawin

Tidak lagi – sonde lai

Contoh : Saya tidak pernah kesana lagi – beta sonde pi sana lai

Bukan – bukan

Contoh : Bukan aku yang melemparmu – bukan beta lempar sang lu

Jangan – jang

Contoh : Jangan beri dia kue itu karena sudah basi – Jang kasi dia itu kue te su basi

Tidak boleh – sonde bole

Contoh : Kamu tidak boleh pergi dulu – Lu sonde bole pi dolo

Hubungan Antar Klausa dan Wacana

Kata hubung

Dalam bahasa Melayu Kupang dikenal kata hubung yang mempunyai lebih dari satu makna, seperti

Ju : kependekan dari juga, namun artinya lebih dari dua, karena kata hubung ini dapat diartikan sebagai dan, juga, lalu, kemudian, sehingga, jadi.

Ko : berarti ke, supaya, sehingga, agar, lalu, dan kemudian. Ko juga bisa berarti atau dan kan? (question tag).

Tagal : artinya karena (dengan alasan yang sangat kuat)

Te : artinya karena juga (dengan alasan), dan yang

Ko….na : karena (dengan penekanan pada sesuatu)

Ma : tetapi, berakar dari bahasa Belanda (maar) atau Portugis (ma)

Deng : kependekan dari dengan, tapi artinya dan

Andia ko : Itu sebabnya (that’s why)

Penanda Wacana (Discourse markers)

Ais tu/abis itu/tarus/ju : setelah itu/kemudian/lalu

Contoh : Ais Tuhan Allah omong lai, bilang….(Setelah itu Tuhan berkata)

Kapan tempo? : kapan?

Contoh : Kapan tempo lu turun datang? (Kapan kamu datang?)

Memang sa!/ Itu su!/ Andia su! : pantas!/tentu!

Contoh : Memang sa! Dia su tau! (Pantas! Dia sudah tahu!)

Tempo hari/ Itu waktu : waktu itu

Contoh : Itu waktu beta lia Ina Feok lempar sapatu sang Bai Ndu (Waktu itu saya melihat Ina Feok melempar sepatu ke arah Bai Ndu).

Bersambung

Sumber:

  1. Grimes, Barbara D dan Jacob, June. 2006. Developing a role for Kupang Malay: the contemporary politics on an eastern Indonesian Creole. http://www.sil.org/asia/philippines/ical/papers.html

Leave a comment »

Kembali

Assalamualaikum Wr.Wb

Setelah sekian lama terabaikan, akhirnya saya putuskan untuk kembali merawat laman ini.

Saya masih bingung bagaimana menambahkan kontak, dan semoga saja anda-anda semua bisa membantu saya. Amien.

Saya akan aktif menulis lagi disini, insyaallah

Leave a comment »

Rincian Kosakata Bahasa Melayu Ambon dan Contoh Kalimat (Ayat)

A

Abang :

Kata ini dipergunakan untuk menyebut lelaki, khususnya di kalangan Muslim

Ada :

Selain untuk menerangkan eksistensi, juga berfungsi sebagai present continuous yang dalam bahasa Indonesia sama dengan ‘sedang’

Contoh :

Nyong Ba ada tidor : Abang Ba sedang tidur

Jang masu, mama ada mara : Jangan masuk, ibu sedang marah

Aér kabor :

Istilah ini selain juga untuk menyatakan ‘air keruh’, juga bermakna idiomatis yang bermakna ‘suasana kacau’

Contoh kalimat :

Beta su nanaku dia, kalo dia datang pasti aer kabor : aku sudah tandai dia, kalau dia datang pasti kacau.

Akang :

Fungsinya adalah sebagai pengganti kata ‘it’ dalam bahasa Inggris, dan susah diterjemahkan secara tepat. Tapi juga menjadi sufiks – kan…yang konon berakar dari bahasa Melayu dialek pulau Kalimantan

Contoh kalimat :

Ose taru akang disitu dolo : kamu taruh disitu dulu

Alé : kamu, anda, awak (gaya Malaysia)

Kata ini berasal dari bahasa Tana.

Contoh kalimat :

Ale mo pi mana sabantar sore? : Nanti sore kamu pergi kemana?

Aléng : lamban

Contoh kalimat :

Ada muda lai su aleng : masih muda sudah lamban

Amanisal : keranjang tempat mengumpulkan ikan

Contoh kalimat :

Beta dapa ikang gantar lai, os taru akang di amanisal

Amato : salam…

Konon berasal dari kata amo te dalam bahasa Portugis, yang makna aslinya ‘aku mencintaimu’, tapi didalam Melayu Ambon maknanya sama dengan salam penutup

Ambong : Ambon

Contoh kalimat :

Apa tempo se pi ka Ambong? : Hari apa kamu pergi ke Ambon?

Amper : hampir

Contoh kalimat :

Amper sa beta dapa bunu : hampir saja aku terbunuh

Ampong : ampun

Contoh kalimat :

Ai, ampong-ampong dia lai : Minta ampun deh dia

Ana : anak

Contoh kalimat :

Ao e, beta pung ana su lulus lai : Aiii, anakku sudah lulus

Ana kacupeng : anak kecil

Contoh kalimat :

Ana kacupeng tu tau babengkeng par orang tatua lai : anak kecil itu sudah pandai mengomel sambil bersungut-sungut kepada orangtua.

Anana : Anak-anak

Contoh kalimat :

Anana dong seng ada yang datang : anak-anak tidak ada yang datang

Anana ucing dong sekarang su banya pung HP : anak muda sekarang sudah ramai punya HP

Anana diwalang baganggu tarus : anak-anak di walang mengganggu terus

Angka : berangkat

Contoh kalimat :

Kapan os pi angka ka Gemba? : kapan kamu berangkat ke Gemba?

Antua : Beliau

Contoh kalimat :

Se su kastau antua ka apa? : kamu sudah beritahu beliau kah

Samua antua yang biking trus kalo seng ada antua, samua tu seng ada lai : Semuanya diciptakan oleh Dia, dan tanpa Dia semuanya tidak ada.

Kalo beta pulang telaat,, antua seng sono lai : kalau beta pulang lambat, beliau tidak tidur.

Arika : gesit, cergas, sejenis burung hutan

Contoh kalimat :

Beta pung ade paling arika : adikku paling gesit

Aso : suka ikut campur

Contoh kalimat :

Jang ba’aso kalo ada orang tatua ada dudu bicara : jangan mencampuri kalau ada orangtua tengah duduk bicara

Ator : atur

Contoh kalimat :

Ator bae-bae kamong pung barisan! : Atur baik-baik barisan kalian!

B

Ba’aso : suka itu campur

Contoh kalimat :

Jang ba’aso kalo orang tatua ada dudu bicara : jangan mencampuri kalau ada orangtua tengah duduk bicara

Babengkeng : mengomel sambil bersungut-sungut

Contoh kalimat :

‘Ana kacupeng tuh tau babengkeng par orang tatua lai’ = Anak kecil itu tahu mengomel sambil bersungut kepada orang tua lagi.

Bacarita : bercerita

Contoh kalimat :

Mari katong dudu bacarita disini sa : ayo kita duduk cerita disini saja

Bacico : sikap tidak tenang, bergerak kesana kemari

Contoh kalimat :

Beta su nanaku tu ana dar’tadi, dia bacico kasana kamari tarus : aku sudah tandai anak itu dari tadi, dia bergerak kesana kemari terus.

Badaki : kotor, berdaki

Contoh kalimat :

Ih, Ose paling badaki e, pi mandi suda! : Ih, kamu kotor banget dech, mandi sana!

Badang : badan

Contoh kalimat :

Dia pung badang basar e : badannya besar betul

Badansa : menari

Contoh kalimat :

Mari katong badansa rame-rame : mari menari sama-sama

Badaong : berdaun

Contoh kalimat :

Beta masi inga oras bet pung tete bacarita tentang batu badaong: Aku masih ingat waktu kakekku cerita soal batu berdaun.

Badara : berdarah

Contoh kalimat :

Lia Maria pung kaki, ada badara : Lihat kaki Maria, berdarah

Badiang : diam

Contoh kalimat :

Ale badiang jua lai, beta cuma mo tipu-tipu Tuangala: Kamu diam saja lah, aku cuma mau bohongi Tuhan

Badonci : bermusik

Contoh kalimat :

Ical tu paling pandai badonci : Ical tuh pandai bermusik

Bae : baik

Contoh kalimat :

Jang dudu disana sore-sore, tar bae : jangan duduk disana sore-sore, tidak baik

Eh, bae-bae, e : Hei, baik-baik

Antua mara par katong pung bae : Beliau marah demi kebaikan kita

Bagara : bergerak

Contoh kalimat :

Itu apa lai yang bagara-bagara dikusu-kusu? : apa itu yang bergerak-gerak di alang-alang?

Bahasa Tana : bahasa ibu, bahasa daerah, atau menurut pemahaman lain bahasa yang dituturkan dipedalaman

Contoh kalimat :

Bahasa Tana su banya yang ilang-ilang : bahasa daerah sudah banyak yang hilang.

Bajalang : berjalan

Contoh kalimat :

Jang bajalang tarus, beta lala e : jangan berjalan terus, aku lelah.

Bajualang : berjualan

Contoh kalimat :

Mo pi mana bu?, mo bajualang ampas tarigu : kamu mau kemana bung? Mau berjualan ampas terigu

Bakalai : berkelahi, marah-marah, bergaduh (istilah Malaysia)

Contoh kalimat :

Robet deng Thomas ada bakalai di jiku strat sana : Robert dan Thomas sedang berkelahi disudut jalan sana.

Bakanda : selingkuh, affair

Contoh kalimat :

Sio Obet lai, dia dapa tinggal dia pung maitua tagal bakanda : Kasihan si Obet, dia ditinggal istrinya karena berselingkuh.

Bakanor : berbicara sambil bersungut-sungut dengan suara tertahan dimulut

Contoh kalimat :

Oee ose bakanor apa di jiku rumah tuh?: Hai kamu bicara bersungut-sungut apa di pojok rumah?

B

Badoa : berdoa

Contoh kalimat :

Mari katong badoa voor ini bangsa : mari kita berdoa untuk bangsa ini

Baileo : balai pertemuan untuk pertemuan desa atau adat.

Contoh kalimat :

Dong ada demo di baileo negri malubeta : mereka sedang berunjukrasa dibalai negeri malubeta.

Bakasang : terasi atau belacan

Contoh kalimat :

Coba ale tamba akang tu bakasang : coba kamu tambahkan terasinya

Bakubae : damai, berdamai

Akar katanya dari kata baku (saling) dan bae (baik)

Contoh kalimat :

Dolo oras masi ada kerusuhan, katong cuma bisa bakudapa di pasar bakubae : Dulu waktu masih kerusuhan, kita hanya bisa jumpa di pasar damai.

Bakudapa : bertemu, jumpa

Akar kata dari baku (saling) dan dapat

Contoh kalimat :

Kamareng Nyong Ba ada bakudapa deng Susi di Karang Panjang : Kemarin Nyong Ba berjumpa Susi di Karang Panjang

Hari raya beso beta bakudapa deng beta pung sodara piara di Malesia : Hari raya besok, saya akan bertemu dengan saudara angkat saya di Malaysia

Baku malawang : melawan, bertengkar

Contoh kalimat :

Oee, jang baku malawang deng beta, nanti beta toki lai! : Hei, jangan melawan aku, kupukul kau nanti!

Balaga : berlagak

Contoh kalimat :

Jang balaga talalu di ini kampong : jangan berlagak dikampung ini

Lak’laki tu paling balaga : lelaki itu paling berlagak

Balagu : sikap tidak pasti antara suka dan tidak

Contoh kalimat :

Kalo Markus datang, Yohana paling balagu : Kalau Markus datang, Yohana bersikap antara suka dan tidak.

Beta mo tanya se, tapi se paling balagu : Aku ingin nyatakan cinta, tapi nona menunjukkan sikap antara suka dan tidak.

Bale : balik

Contoh kalimat :

Oma su bale ka seng? : Nenek sudah balik belum?

Bale muka : memalingkan muka

Contoh kalimat :

Dia biking beta bale muka tagal malu hati deng dia pung kalakuang : Dia buat aku memalingkan muka, karena malu dengan kelakuannya

Bali : beli

Contoh kalimat :

Kalo beta pi ka Surabaya, pasti beta bali baju voor anana dikampong : kalau saya pergi ke Surabaya, saya pasti beli baju untuk anak-anak dikampung.

Balisah : gelisah

Contoh kalimat :

Itu barita biking balisah satu kampong : berita itu membuat gelisah satu kampung

Baloleng : mengacu pada aktivitas jalan-jalan tanpa tujuan pasti, atau marah untuk kebaikan

Contoh kalimat :

Ose baloleng kemana ni? : kamu jalan kemana saja?

Balumpa : berlompatan, melompat

Contoh kalimat :

Tu anana ada balumpa-lumpa dipante : anak-anak itu berlompatan dipantai

Bamaki : memaki-maki

Contoh kalimat :

Ina Hatu bamaki Caca Wati di muka rumah : Ina Hatu memaki-maki Caca Wati di muka rumah.

Bandera : bendera

Berakar dari kata ‘bandeira’ yang merupakan kata Portugis

Contoh kalimat :

Kibar bandera oras hari mardika : kibar bendera waktu hari kemerdekaan

Bangka : bengkak, memar

Contoh kalimat :

Dong baku inja kaki sampe bangka-bangka : mereka injak-injak kaki sampai kaki bengkak.

Bapa : bapak, selain itu juga dipakai untuk menamai pendeta lelaki

Contoh kalimat :

Beta pung bapa su ada tunggu dimuka : Ayahku sudah menunggu didepan

Bapa Yohanes beso pi terbang ka Jakarta : Bapa Yohanes besok terbang ke Jakarta

Bapa raja : kepala desa, kepala kampung

Contoh kalimat :

Tuang Latuihamallo dapa tunju jadi bapa raja di ini kampong : Pak Latuihamallo ditunjuk jadi kepala desa di kampung ini.

Bapili : memilih (mengundi kata orang Malaysia)

Contoh kalimat :

Bapili sapa di pemilu 2009 nanti? : pilih siapa di pemilu 2009 nanti?

Barapa : berapa

Contoh kalimat :

Se bali barapa tu komputer? : Kamu beli berapa komputer itu?

Barenti : berhenti

Contoh kalimat :

Barenti e! jang masu dalang dolo! : berhenti! Jangan masuk kedalam dulu!

Beta sedi tagal beta musti barenti karja : aku sedih karena harus berhenti kerja

Barmaeng : bermain

Contoh kalimat :

Paling sanang beta barmaeng aer di Air Basar : Aku paling suka bermain air di Air Besar (air terjun di pulau Ambon)

Baronda : berkeliling

Contoh kalimat :

Malam-malam paling sadap baronda disini : Malam-malam paling enak berkeliling disini

Basar : besar

Contoh kalimat :

Camu pung ana su basar e : Anak si Camu sudah besar ya

Basena : bersenang-senang

Contoh kalimat :

Jang basena talalu, loko punggul sadiki-sadiki voor beso : jangan bersenang2 melulu, tabunglah sedikit untuk besok

Basena batunang : berpacaran

Contoh kalimat :

Acang deng Wati su basena batunang lama : Acang dan Wati sudah lama berpacaran

Basisou : suka menceritakan kejelekan orang lain

Contoh kalimat :

‘Jang pi dudu basisou disitu’ = Jangan pergi duduk untuk menceritakan kejelekan orang lain disitu.

Basudara : bersaudara, saudara

Contoh kalimat :

Katong samua basudara : kita semua bersaudara

Beta ada lima basudara : saya lima bersaudara

Batareak : berteriak

Contoh kalimat :

Ei, jang batareak o! Bet bisa pica talinga !: Heh, jangan berteriak! Telingaku bisa pecah

Batimbang : mempertimbangkan

Contoh kalimat :

Kalo mo bakaweng, musti batimbang bae-bae : kalau ingin menikah, harus dipertimbangkan masak-masak.

Batimbang sabala : pilih kasih, berat sebelah

Contoh kalimat :

Batimbang sabala tar bae voor anana pung perkembangan : pilih kasih tidak baik bagi perkembangan anak-anak

Baterek : mengganggu, mengejek

Contoh kalimat :

‘Ose kalo jadi kaka jang suka baterek ade-ade’ : Kamu kalau jadi kakak, jangan suka mengganggu adik-adik.

Batul : betul, juga dipakai untuk penyangatan

Contoh kalimat :

Gaga batul e! : gagah banget!/ keren banget!/ lawa sangat!

Bawarmus : Istilah untuk menyuruh orang menghabiskan pekerjaannya sampai tuntas, tapi terserah orang tersebut

Contoh kalimat :

Loko pi bawarmus nasi kuning sana la se diam disitu : pegang dan selesaikan masak nasi kuning saja biar kamu diam disitu.

Bembeng : bimbing

Contoh kalimat :

Dia tu masi kacil, harus kas bimbing bae-bae : dia itu masih kecil, harus dibimbing dengan benar.

Bendar : kota

Contoh kalimat

Pi ka bendar ka seng? : pergi ke kota nggak?

Beta : saya, aku

Dalam semua situasi kata ganti ‘saya’ dan ‘aku’ bermakna ‘beta’. Dalam bahasa Melayu Ambon, Kupang dan Banda, ‘beta’ dipakai untuk bahasa sehari-hari. Berlawanan dengan penggunaan ‘beta’ dalam bahasa Melayu dibarat yang dipakai raja-raja.

Contoh kalimat :

Beta pung nama Ana : nama saya Ana

Kas beta satu e : beri saya satu

Dia pung kata biking beta jumawa : kata-katanya membuatku sangat marah

Biden : berdoa

Berasal dari bahasa Belanda ‘bidden’

Contoh kalimat :

Oma Yohana ada biden-biden di gareja skarang : Nenek Yohana sedang berdoa di gereja sekarang.

Biking : bikin, membuat, menyebabkan

Contoh kalimat:

Ini asida paling sadap e, sapa yang biking akang? : Kue asida ini enak sekali, siapa yang membuatnya?

Bisi-bisi : bisik-bisik

Contoh kalimat :

Ssst, jang kras-kras, katong bisi-bisi sa : Ssst jangan keras-keras, kita bisik-bisik saja.

Blakang : belakang

Contoh kalimat :

Dia ada di jiku blakang : dia ada dipojok belakang

Bobou : bau

Contoh kalimat :

Paling bobou ose lai, pi mandi sana suda! : Kamu bau betul, mandi sana!

Bodo : bodoh

Contoh kalimat :

Bodo-bodo biking susa hidup lai : bodoh-bodoh buat hidup susah

Botol manci : sejenis setan

Contoh kalimat :

Oras beta masih anana ucing, orang tatua suka bacarita tentang botol manci : Waktu aku masih anak-anak, orangtua suka cerita tentang botol manci.

Bu : panggilan untuk laki-laki, sama dengan bang, bung, mas, dst

Contoh kalimat :

Bu Sunday : Bung Sunday

Bu Cano : Bung Cano

Bulang : bulan

Contoh kalimat :

Bulang apa skarang? : bulan apa sekarang?

Bulang trang : bulan purnama

Contoh kalimat :

Wer ada bae e, apalai ada bulang trang, sadap par dudu-dudu hotu: Cuaca baik nih, apalagi ada bulan purnama, enak untuk duduk-duduk diluar

Bumbungan kapala : ubun-ubun

Contoh kalimat :

Panas mati lai, sampe bumbungan kapala : panas banget nih, sampai ubun-ubun

Burong kondo : bangau

Contoh kalimat :

Tarada burong kondo disini : tidak ada burung bangau disini

Burong Pombo : burung merpati

Contoh kalimat :

Burong Pombo tamasu burong yang tar suka bakanda : burung merpati termasuk burung yang tidak suka berselingkuh.

Busu : busuk

Contoh kalimat :

Biar tasimpan jua, bangke busu pasti bobou : biar disimpan juga, bangkai busuk pasti muncul baunya

Busu-busu : jelek-jelek

Contoh kalimat :

Busu-busu, nona ambong jua lai : Jelek-jelek gadis ambon lah

Leave a comment »

Sedikit Tentang Ragam Bahasa Melayu di Indonesia

Suku Bangsa Melayu merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia setelah Suku Jawa dan Sunda, diperkirakan jumlahnya mencapai lebih dari 20-30 juta jiwa. Ciri khasnya, mereka bermukim di pesisir-pesisir pantai khususnya Sumatera dan Kalimantan. Namun menjadi basis kuatnya adalah Pulau Sumatera dimana mereka diyakini berasal. Dan ini adalah perpanjangan dari tulisan saya yang dibuat hampir setahun yang lalu.

Nama Melayu mulai dikenal pada masa berdirinya kerajaan Melayu di wilayah Sungai Batanghari yang kini membelah Propinsi Jambi. Dari sini kemudian kemungkinan tersebar hingga ke semenanjung Melayu. Kerajaan-kerajaan Melayu pernah ada dan tersebar hingga ke Pulau Kalimantan (Borneo). Sedangkan bahasanya bahkan menyebar hingga ke bumi Papua.

Persebaran suku yang disebut Melayu ini antara lain :

SUMATERA

Aceh Tamiang- Nanggroe Aceh Darussalam: Dikenal dengan nama Bumi Muda Sedia, dengan semboyan Kasih Pape Setie Mati. Mengacu pada kerajaan Tamiang yang berada ditepian sungai Tamiang. Meski dikenal sebagai wilayah Melayu di Bumi Rencong, namun Aceh Tamiang (yang merupakan pecahan Aceh Timur) ini juga heterogen. Bahasa Melayu yang dipakai serupa dengan Melayu Langkat.

Pesisir Timur Sumatera Utara : Mulai dari Kabupaten Langkat hingga pesisir kabupaten Labuhan Batu, disitulah suku Melayu tinggal. Kota Medan yang merupakan kota no 3 di Indonesia penduduk aslinya adalah Melayu Deli. Langgam-langgam Melayu yang populer di Indonesia berasal dari Lagu Melayu Deli seperti Injit-injit semut. Dialek yang utama sebagian adalah Dialek Langkat, Deli dan Serdang.
Contoh
Maya kabar? – apa kabar?

Riau : Bagian barat Propinsi Riau didominasi oleh etnis Minangkabau khususnya di kawasan Kampar, Rokan Hulu, Inderagiri Hulu, Kuantan Singingi, bahkan kota Pekanbaru sendiri diperkirakan 60% penduduknya berasal dari Sumatera Barat dan berbahasa Minangkabau. Daerah Siak merupakan pusat Melayu di daratan Riau dengan basis di kawasan Siak Seri Inderapura yang dulunya merupakan pusat kerajaan Siak, Melayu dialek ‘o’ banyak dipakai di pedalaman Riau.

Kepulauan Riau : Sudah sangat diketahui bahwa Kepulauan Riau adalah pusat kebudayaan Melayu di Indonesia. dari sinilah katanya Bahasa Indonesia berakar, serupa dengan Johor. Mulai dari kepulauan Karimun, Singkep-Lingga hingga kepulauan Tambelangan, Kabupaten Natuna. Dialeknya cenderung menggunakan akhiran –e

Jambi : Dikenal dengan bahasa Melayu Jambinya selain berbagai bahasa lainnya yang masih digolongkan Melayu. Berpusat di kota Jambi dengan lafal ‘o’. Suku-suku yang disebut Melayu juga tersebar di pedalaman. Dialek ‘e’ seperti Malaysia dipakai di wilayah pesisir Tanjung Jabung

Contoh:
lho kau skrg di mano….aku dewek bukan wong jambi tapi limo taon tinggal disano……kangen kalu pas musim durian dengan duku kumpei😦 lah lamo jugo aku idak ke jambi….tapi ktanyo lah maju sekarang

Bengkulu : Bahasa Melayu dialek Bengkulu dipakai di Kota Bengkulu dan Sekitarnya, sedangkan bahasa-bahasa lainnya adalah Bahasa Rejang, Lebong, Muko-Muko dan Serawai yang masih digolongkan Melayu Tua.

Contoh Melayu Bengkulu :

“Bayu lah wangi, siko kek ayuk Kinan!”

“Eh, lucu kali dak? Kalo misalnyo segedang kito la punyo anak?”

Sumatera Selatan : Sebagian besar wilayah Sumsel menggunakan varian melayu yang berbeda. Bahasa Melayu Palembang sangat kuat pengaruh bahasa Jawanya karena Sultan Palembang di masa lalu diperkirakan bernenek moyang Jawa. Dialek utama adalah dialek ‘o’ dan ‘e’. Contoh utamanya adalah, orang Palembang sering menyebut dirinya sebagai wong kito (orang kita yang sejenis dengan urang awak di Sumatera Barat). Sering disebut sebagai Baso Plembang

Contoh Melayu Palembang :

Mak mano kalo kito buka thread baru tentang baso plembang. sebab kadang men lagi ketemu budak plembang te metu baso jaman bingen laju tepingkel-pingkel.

belakangan makin galak bebaso plembang. awalnyo garo2 farah samo aku baru tau kalok umak-bapak kami tu ternyato bekawan nian. jadilah sering sms-an kami2 ni. berhubung ceritanyo “wong kita galo” ni tadi banggo nian samo baso leluhur, naaaa… mulai lah bebaso plembang terus.

dan lamo2 kuperhatike, plembang tu icak2nyo kecik nian. satu kenal samo yang lain. pacak lah itu di kawinan sepupunya, ado pulok eyangku. ujinyo jadi tamu bae, tapi diundang pulok pas siraman.


Bangka-Belitung : Juga merupakan penyebaran suku Melayu dengan dialek tersendiri.

Contoh Melayu Bangka :

lah lame dak pulang hutan di sekitar riau-silip agik ade dak ok,coz terakir ku palang hutang2 disane lah jadi kulong semue,kirak e ade lah dikit kesadaran kalau lah sude dimbil hasil e mbok ya lobange ditutup be,masak nek berbuat nggak bertanggung jawab aben,kasian kek anak cucu kite kelak dak pacak agik bekebun kelak

Melayu di Kalimantan

Apa yang disebut Melayu di Pulau Kalimantan ini ada dua asal usul, yakni yang memang berasal dari tanah Melayu, baik itu Sumatera atau Semenanjung Malayu, atau orang-orang Dayak yang masuk Islam dan menjadi atau menganggap dirinya sebagai Melayu.

Suku Melayu yang hidup di pesisir Kalimantan Barat umumnya adalah keturunan pendatang dari Riau Kepulauan atau Semenanjung. Sedangkan Melayu yang di tepi-tepi sungai adalah keturunan percampuran antara Melayu, Bugis dan Dayak atau orang Dayak yang masuk Islam dan menganggap dirinya sebagai Melayu. Dialek Melayu yang lazim di Kalimantan Barat antara lain :

Dialek Pontianak

Dialek Sambas

Dialek Landak (Ngabang), dan

Dialek Ketapang

Dialek Pontianak menggunakan akhiran ‘a’ yang terbaca ‘e’ sebagaimana Melayu Malaysia, namun dalam dialek Sambas ‘a’ ini terbaca ‘é’ hamper mirip dengan Betawi.

Untuk kasus di Kalimantan Selatan, apa yang disebut Melayu adalah orang-orang Banjar. Bahasa Banjar sendiri dibagi menjadi dua varian, yakni Banjar Hulu dan Banjar Kuala. Namun persamaan dengan Melayu di Sumatera semakin jauh dengan banyaknya pengaruh kosakata Bahasa Jawa dan Dayak. Contoh Bahasa Banjar antara lain :

  • arai (Banjar Hulu), himung (Banjar Kuala); artinya gembira
  • hagan (Banjar Hulu), gasan (Banjar Kuala); artinya untuk
  • tiring (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya melihat
  • bungas (Banjar Hulu), langkar (Banjar Kuala); artinya cantik
  • tingau (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya toleh, lihat
  • balalah (Banjar Hulu), bakunjang (Banjar Kuala); artinya bepergian
  • lingir (Banjar Hulu), tuang (Banjar Kuala); artinya tuang
  • tuti (Banjar Hulu), tadi (Banjar Kuala); artinya tadi
  • ba-ugah (Banjar Hulu), ba-jauh (Banjar Kuala); artinya menjauh
  • macal (Banjar Hulu), nakal (Banjar Kuala); artinya nakal
  • balai (Banjar Hulu), langgar (Banjar Kuala); artinya surau
  • tutui (Banjar Hulu), catuk (Banjar Kuala); artinya memukul dengan palu
  • tukui (Banjar Hulu), periksa (Banjar Kuala); artinya memeriksa
  • padu (Banjar Hulu), dapur (Banjar Kuala); artinya ruang dapur
  • kau’u (Banjar Hulu), nyawa (Banjar Kuala); artinya kamu
  • diaku (Banjar Hulu), unda (Banjar Kuala); artinya aku
  • disia (Banjar Hulu), disini (Banjar Kuala); artinya disini
  • bat-ku (Banjar Hulu), ampun-ku (Banjar Kuala); artinya punya-ku
  • bibit (Banjar Hulu), ambil (Banjar Kuala); artinya ambil
  • ba-cakut (Banjar Hulu), ba-kalahi (Banjar Kuala); artinya berkelahi
  • diang (Banjar Hulu), galuh (Banjar Kuala); artinya panggilan anak perempuan
  • nini laki (Banjar Hulu), kayi (Banjar Kuala); artinya kakek
  • utuh (Banjar Hulu), nanang (Banjar Kuala); artinya panggilan anak lelaki
  • uma (Banjar Hulu), mama (Banjar Kuala); artinya ibu
  • hingkat (Banjar Hulu), kawa (Banjar Kuala); artinya dapat, bisa
  • puga (Banjar Hulu), hanyar (Banjar Kuala); artinya baru
  • salukut (Banjar Hulu), bakar (Banjar Kuala); artinya bakar
  • kasalukutan, kamandahan (Banjar Hulu), kagusangan (Banjar Kuala); artinya kebakaran
  • tajua (Banjar Hulu), ampih (Banjar Kuala); artinya berhenti
  • bapandir (Banjar Hulu), bepéndér (Banjar Kuala); artinya berbicara
  • acil laki (Banjar Hulu), amang, paman (Banjar Kuala); artinya paman

Varian Banjar di Kalimantan Selatan dan Tengah sedikit berbeda…Banjar Kalsel mengucapkan kadada (untuk tidak ada), sedangkan di Kalimantan Tengah yang banyak terpengaruh Bahasa Indonesia mengucapkan kadida.

Contoh lain Bahasa Banjar :

“Bahujung napa cu? Jangankan bahujung malah marugi. Wayah ini awak sudah ringkutan, pinggang sakit, tulang rasa dicucuk-cucuk, bajalan manggatar dan tabungkuk-bungkuk,” ujar kai.

Sedang di Kalimantan Timur ada sebentuk bahasa yang dianggap Melayu, yakni Kutai yang dipakai oleh suku Kutai di kawasan tepian Sungai Mahakam. Disamping itu ada sebentuk dialek Melayu yang dipakai di kawasan Berau, belahan utara Kalimantan Timur

Contoh perbandingan Bahasa Banjar dengan Kutai adalah :

  • busu (Banjar), busu (Kutai); artinya saudara dari orangtua kita yang termuda (bungsu).
  • umpat (Banjar), umpat (Kutai); artinya ikut
  • kawa (Banjar), kawa (Kutai); artinya dapat, bisa
  • kayina (Banjar), kendia (Kutai);artinya nanti
  • inya (Banjar), nya (Kutai);artinya dia
  • sidin (Banjar), sida (Kutai); artinya beliau
  • muntung (Banjar), moncong, sungut (Kutai); artinya mulut
  • karinyum (Banjar), kerinyum (Kutai); artinya senyum
  • rancak (Banjar), rancak (Kutai); artinya sering
  • talu (Banjar), telu (Kutai); artinya tiga
  • banyu (Banjar), aer (Kutai); artinya air
  • pagat (Banjar), pegat (Kutai); artinya putus
  • iwak (Banjar), iwak, jukut (Kutai); artinya ikan
  • ilat (Banjar), elat (Kutai); artinya lidah
  • dadai (Banjar), dadai (Kutai); artinya jemur
  • jabuk (Banjar), jabok (Kutai); artinya lapuk
  • andak (Banjar), andak (Kutai); artinya taruh
  • luar (Banjar), jaba (Kutai); artinya luar
  • kawah (Banjar), kawah (Kutai); artinya kuali
  • muha (Banjar), muha (Kutai); artinya muka, wajah
  • puhun (Banjar), puhun (Kutai); artinya pohon
  • kolehan (Banjar Kuala), polehan (Kutai); artinya hasil
  • kesah (Banjar Kuala), kesah (Kutai); artinya kisah
  • tajak (Banjar), tajak (Kutai); artinya tancap
  • pacul (Banjar), pacul (Kutai); artinya lepas
  • amun (Banjar), amun (Kutai); artinya kalau
  • padah (Banjar), padah (Kutai); artinya bilang
  • jawau (Banjar), jabau (Kutai); artinya singkong
  • payau (Banjar), payau (Kutai); artinya rusa
  • lawai (Banjar), lawai (Kutai); artinya benang
  • satundunan (Banjar), satundunan (Kutai); artinya setandanan
  • tutuk (Banjar), tutuk (Kutai); artinya tumbuk
  • tatak (Banjar), tetak (Kutai); artinya potong
  • jarang (Banjar), jerang (Kutai); artinya memasak air
  • carik (Banjar), carek (Kutai); artinya robek
  • guring (Banjar), goreng, tidur (Kutai); artinya tidur
  • sanga (Banjar), sanga (Kutai); artinya goreng
  • olah (Banjar), olah (Kutai); artinya buat
  • muyak (Banjar), muyak (Kutai); artinya bosan
  • wada (Banjar), wada (Kutai); artinya cela
  • uyah (Banjar), uyah (Kutai); artinya garam
  • acan (Banjar), acan (Kutai); artinya terasi
  • sudu (Banjar), sudu (Kutai); artinya sendok
  • lading (Banjar), lading (Kutai); artinya pisau
  • lawang (Banjar), lawang (Kutai); artinya pintu
  • sarudung (Banjar), serudung (Kutai); artinya kerudung
  • kamih (Banjar), kemeh (Kutai); artinya air kencing
  • hera’ (Banjar), herak (Kutai); artinya tahi
  • kiyau (Banjar), kiyau (Kutai); artinya panggil
  • putik (Banjar), putik (Kutai); artinya petik
  • tapas (Banjar), tepas (Kutai); artinya cuci
  • parak (Banjar), parak (Kutai); artinya dekat
  • calap (Banjar), celap (Kutai); artinya basah
  • halus (Banjar), halus (Kutai); artinya kecil
  • bujur (Banjar), bujur (Kutai); artinya betul, lurus
  • lanjung (Banjar), lanjong (Kutai); artinya keranjang
  • karadau (Banjar), keradau (Kutai); artinya omong kosong
  • bancir (Banjar), bancir (Kutai); artinya banci
  • gair (Banjar), gaer (Kutai); artinya takut
  • jauh (Banjar), jaoh (Kutai); artinya jauh
  • karing (Banjar), kereng (Kutai); artinya kering
  • habang anum (Banjar), habang muda (Kutai); artinya merah muda
  • buting (Banjar), buting (Kutai); artinya buah
  • selawi (Banjar Kuala), selawe (Kutai); artinya duapuluh lima
  • tihang (Banjar), tihang (Kutai); artinya tiang
  • mandi (Banjar), mendi (Kutai); artinya mandi
  • sodok (Banjar Kuala), sodok (Kutai); artinya tikam
  • tulak (Banjar), tulak (Kutai); artinya berangkat
  • surung (Banjar), sorong (Kutai); artinya sodor
  • kurus karing (Banjar), koros kereng (Kutai); artinya kurus kering
  • ular sawa (Banjar), tedung sawah (Kutai); artinya ular sawah

Ada pula kelompok Melayu yang bermukim di Pulau Bali, tepatnya di kampung Loloan, Kota Negara, Kabupaten Jembrana. Mereka berleluhur asal Semenanjung terutama Trengganu dan Pontianak (Kalimantan Barat). Berbahasa Melayu di rumah, Berbahasa Bali diluar komunitasnya. Mereka diperkirakan datang ke Bali sekitar abad ke-18. Di Banyuwangi, Jawa Timur terdapat Kampung Melayu, namun kini komunitasnya hanya berbahasa Jawa dan Madura, Melayu telah terasimilasi menjadi penduduk setempat.

Sedangkan yang di Jakarta, Melayu sendiri sudah bukan lagi murni karena terjadi percampuran berbagai ras yang melahirkan Orang Betawi, dengan berbahasa Melayu Jakarta yang sekitar 43% kosakatanya dipengaruhi Bahasa Sunda. Melayu Betawi sendiri terbagi atas 3 sub-dialek utama, yakni :

Betawi Kota, dengan contohnya : aye udeh makan (dipakai di wilayah pusat)

Betawi Udik, contohnya : sayah udah makan (dipakai di pinggiran Jakarta,  Bogor, Tangerang, Bekasi hingga Karawang)

Betawi Ora, contohnya : lu ora pegi ke lanang lu? Betawi Ora ini terpengaruh oleh bahasa Jawa seperti dalam kata menjalankan yang menjadi njalanin, sedangkan pada kosakata Betawi umum yang terpengaruh Sunda menjadi ngejalanin.

Sebenarnya Bahasa Melayu Betawi ini bukanlah bentukan dialek Melayu, melainkan sebagai hasil dari kreolisasi yang berlangsung selama berabad-abad sebagai bahasa antar suku dan ras di tanah Batavia. Disamping itu juga terdapat dialek Melayu dipakai oleh kaum Peranakan Cina di Kabupaten Tangerang, yang sedikit banyak sangat mirip dengan Melayu Betawi, dan inilah mungkin wilayah Melayu di Pulau Jawa.

Melayu Indonesia Timur

Bahasa Melayu di kawasan Timur Indonesia keberadaannya merupakan akibat dari kontak dagang semenjak dahulu kala antara pedagang di timur dan barat. Bahasa ini semakin tersebar dengan pesat semenjak kekuasaan Belanda membawa bahasa ini sebagai sarana penyebaran agama Kristen. Seperti halnya Betawi, Melayu di kawasan ini juga merupakan bentuk Kreol dengan susunan bahasa lebih mirip bahasa Eropa ketimbang Indonesia sendiri, bahkan ada suatu penelitian mengatakan bahwa bahasa Melayu Indonesia Timur tidak berkembang langsung dari Semenanjung atau Sumatera, melainkan dari Pulau Kalimantan bahkan Brunei. Di kawasan ini, penyingkatan juga sangat lazim…Varian tersebut antara lain

Melayu Manado (di kawasan Sulawesi Utara)

Melayu Makassar (Makassar dan sekitarnya)

Melayu Larantuka (kawasan Flores Timur, NTT)

Melayu Kupang (Kupang dan sebagian Timor Barat, NTT)

Melayu Ternate (Pulau Ternate dan Halmahera)

Melayu Bacan (Pulau Bacan dan sekitarnya)

Melayu Ambon (Pulau Ambon dan Lingua Franca di Maluku)

Melayu Papua/Irian

Contoh Melayu Manado :

Tulis tu apa mo beking, kong putuskan apa tu mo beking capat, apa tu mo beking nanti, apa tu orang laeng mo beking, deng apa tu mo kase sorong vor berikut

Contoh Melayu Kupang :

Dong bekin semacam skenario supaya dong yang tukang bunu orang, trus ada orang laen yang son tau hal yang jadi tumbal.Na, kalo batul skenario model begitu, bararti ini orang yang barmaen di balakang layar tu bukan sambarang orang. Dong pasti tau batul cara bunu orang trus hilangkan jejak, trus jebak orang laen supaya maso di dong pung perangkap. Naaaaa, bapa kan tau to, sapa yang biasa barmaen strategi. Jadi, manurut beta, pasti ada jaringan, mo jaringan apa ke apa, yang panting masala di Poso tu pas ada dia pung jaringan.

Contoh Melayu Papua :

Terimakasih pace SPW atas paketnta. skarang masih tlalu pagi jadi mata sayup sayup tapi sa kan cek paket tu, baru ko so kunjug sobat Asyo di rumah sakit kah belum. Pace dorang so keluarkan peluruh dari perut Asyo bawa ke laboratorium. mudah mudahan peluru itu tak nyasar di jalan sehingga diganti deng peluruh lain yang beda merek.

Sedemikian dulu jabaran saya tentang bahasa Melayu berikut ragamnya di belahan bumi Indonesia, dari barat sampai ke timur, bahkan sebenarnya bahasa ini jauh semenjak dulu berkembangnya. Semenjak tahun 1926, bahasa Melayu sudah menjadi bahasa ‘resmi’ di Papua untuk mewadahi ratusan suku, dan bahkan sebentuk dialek Melayu sudah terbentuk disana. Sedangkan pada tahun 1928 barulah nama Melayu digantikan dengan Bahasa Indonesia setelah Soempa Pemoeda.
Diperlukan upaya bersama untuk mengembangkan bahasa Indonesia (dan Melayu). Bahasa Indonesia sendiri mengalami banyak penyerapan dari bahasa-bahasa lain, baik bahasa asing maupun bahasa daerah khususnya Jawa dan Melayu Betawi yang seolah sudah jadi bahasa kedua dinegeri ini. Bagaimana dengan di Malaysia dan Singapura? 

Semoga takkan hilang Melayu didunia….

Bambang Priantono

Dari berbagai sumber

1 April 2006

Comments (1) »

KAMUS MELAYU AMBON-INDONESIA (A-B)

Bahasa Melayu Ambon konon bukan berasal langsung dari Sumatera atau Semenanjung, melainkan berasal dari varian Melayu di Pulau Kalimantan. Bahasa ini lebih tepat disebut sebagai Kreol Melayu karena pada awalnya tidak dituturkan penduduk asli dan menjadi bahasa Pidgin alias antar kelompok, yang kemudian jadi bahasa Ibu sehingga disebut Bahasa Kreol Melayu.
Disini adalah kata-kata bahasa Melayu Ambon yang saya dapat baik yang saya hafal maupun dari situs-situs warga Ambon dimana-mana….termasuk ambon-manise.com yang lama-lama saya makin suka dengan situs itu…:)

Tete, nene, nyong, non, abang, caca, usi dst…..ini beta kasi akang dolo yang A-B…yang laeng manyusul….
Ada kata-kata yang saya kosongi, berarti belum tahu artinya…tolong dong dibantuin artinya. Kalau ada yang keliru tolong dibenahi…hehehehe

Dangke banya..

A
Abang : kakak laki-laki (dipakai kalangan muslim)
Ada : ada, sedang
Ade’ : adik
Ado : aduh
Aer : air
Aer kabor : air keruh, juga ungkapan untuk suasana kacau
Akang : ….kan/ it dalam bahasa Inggris
Akor : baik, rukun
Ale : kamu, anda
Aleng : lamban
Alus : halus
Amanisal : keranjang tempat mengumpulkan ikan
Amato : salam
Ambon kart : ambon KTP
Ambong : ambon
Ampas tarigu : sejenis kue
Amper : hampir
Amplov : amplop
Ampong : ampun
Ana : anak : budak
Anana : anak-anak : budak-budak
Anana ucing : anak muda
Angka : berangkat
Antua : beliau
Apa : apa
Apalai : apa lagi
Apapa’ : apa-apa
Areng-areng : hanya
Arika : gesit
Arika : sejenis burung hutan
Asida : sejenis kue
Aso : ikut campur
Ator : atur

B
Ba’aso : mencampuri
Babengka : sejenis kue
Babengkeng : mengomel sambil bersungut-sungut
Bacarita : bercerita
Bacico : sikap tidak tenang, gelisah
Badaki : berdaki, kotor
Badang : badan
Badansa : berdansa
Badara : berdarah
Badendang : berdendang
Badepa : melangkah pindah-pindah
Badiang : diam
Badonci : bermusik
Bae : baik
Bagara : bergerak
Bahasa tana : bahasa daerah, logat tempatan. Namun juga untuk sebutan bahasa kaum terasing di pedalaman
Baileo : balai
Bajalan : berjalan
Bajualang : berjualan
Bakalai : berkelahi : bergaduh
Bakanda : selingkuh
Bakanor : berbicara sambil bersungut2
Bakasang : terasi : belacan
Bakubae : damai
Bakudapa : berjumpa
Baku malawang : melawan, bertengkar
Bakupolo : berpelukan
Balaga : berlagak
Balagu : sikap antara suka dan tidak suka
Bale : balik
Bale muka : balik muka, memalingkan muka
Balisah : gelisah
Baloleng : sama dengan baronda
Balumpa : melompat
Bamaki : memaki
Banang : benang
Bandera : bendera
Bangka : bengkak
Baniang : semacam baju
Bapa : bapak
Bapa raja : kepala kampung, kepala desa
Bapili : memilih : mengundi
Barapa : berapa
Barenti : berhenti
Baribot : ribut, gaduh
Barmaeng : bermain
Baronda : jalan-jalan tanpa tujuan
Basar : besar
Basena : senang-senang
Basena batunang : orang berpacaran
Basisou : suka membicarakan kejelekan orang lain
Basudara : saudara
Batareak : berteriak
Batarewas : unjuk rasa, teriak
Batimbang : menimbang
Batimbang sabala : berat sebelah, pilih kasih
Baterek : mengganggu, meledek
Batul : betul
Bawarmus : memerintahkan sesuatu, tetapi terserah pada yang disuruh
Bembeng : bimbing
Bendar : kota : bandar
Beta : saya
Biden : berdoa
Bijiruku :
Biking : bikin, membuat
Bisi-bisi : bisik-bisik
Blakang : belakang, punggung
Bobou : bau
Bodo : bodoh
Bodok : sangat bodoh
Boslak :
Botol : botol
Botol manci : sejenis setan
Bu : bung (panggilan untuk lelaki)
Buat tahan : mempertahankan
Bulang : bulan
Bulang trang : bulan purnama
Bumbungan kapala : ubun-ubun
Burong : burung
Burong kondo : burung bangau
Burong paikole : burung wagtail
Burong Pombo : burung merpati
Busu : busuk
Busu-busu : jelek-jelek

Comments (1) »

Daftar Kata Serupa Tapi Tak Sama (False Friend) Bhs Indonesia dan Malaysia

Berikut ini adalah daftar kata yang acap menjadi false friends atau disalahpahami antara bahasa Indonesia dan Melayu Malaysia, dan masih sebagian saja yang bias ditampilkan disini. Sekalian juga sebagai sumber rujukan bagi dua Negara (plus Melayu Singapura) untuk dapat saling memahami perbedaan dalam dua kata yang serupa ini…(sumber : Wikipedia dan lain-lain)

Petunjuk : (BI) = Bahasa Indonesia ; (BM) = Bahasa Melayu Malaysia

Ahli
(BI) = orang yang sangat menguasai satu bidang
(BM) = anggota (satu kelompok) bila digunakan sendiri

Akta
(BI) = dokumen hukum tertulis
(BM) = berkait dengan hukum

Baja
(BI) = logam
(BM) = pupuk (fertilizer)

Banci
(BI) = pria yang kewanita-wanitaan
(BM) = cacah jiwa (census) – sedang di Malaysia istilah ‘pondan’ yang dipakai

Berbual
(BI) = berkata-kata tinggi untuk menutupi kekurangannya (membual)
(BM) = Bercakap, membahas, diskusi

Bisa
(BI) = dapat (can), racun
(BM) = racun

Bontot/Buntut
(BI) = ekor
(BM) = pantat (buttock)

Butuh
(BI) = perlu (need)
(BM) = kelamin laki-laki, kata-kata yang tak pantas

Comel
(BI) = menyebut seseorang yang tidak bisa menjaga rahasia (bhs gaulnya = ember)
(BM) = lucu, cantik, tampan

Curut
(BI) = sejenis tikus
(BM) = cigar atau di BI menjadi cerutu

Gampang
(BI) = mudah (easy)
(BM) = anak haram jadah (bastard)

Jabatan
(BI) = Posisi
(BM) = Departemen

Jawatan
(BI) = Posisi
(BM) = Departemen

Jeruk
(BI) = orange
(BM) = buah atau sayur yang diawetkan (bahasa Indonesia menyebutnya acar)

Kacak
(BI) = berkacak pinggang
(BM) = ganteng, tampan

Kapan
(BI) = when
(BM) = kain kafan

Kereta
(BI) = mengacu pada kereta api
(BM) = mobil

Khidmat
(BI) = tenang, syahdu
(BM) = service atau jasa

Pajak
(BI) = tax
(BM) = mortgage (dibahasa Indonesia bermakna hipotik atau gadai)

Pelan
(BI) = slow
(BM) = rencana

Pejabat
(BI) = orang yang menempati posisi tertentu
(BM) = gedung perkantoran

Pengajian
(BI) = pembacaan kitab suci Al-Quran
(BM) = education atau pendidikan

Percuma
(BI) = tidak berguna
(BM) = tidak dikenai biaya, Cuma-Cuma

Polis
(BI) = polis asuransi
(BM) = polisi
Pusing
(BI) = pening kepala
(BM) = putar-putar, jalan-jalan

Tambang
(BI) = mine (pertambangan), tali
(BM) = biaya angkutan/ transportasi

Tandas
(BI) = menjelaskan, menyelesaikan hingga tuntas
(BM) = kamar kecil

Leave a comment »